Biaya Semester Pendek (SP) naik. Isu tersebut sudah menyebar hampir di seluruh penjuru kampus UPN “Veteran” Jatim, baik di kalangan mahasiswa maupun para birokarasi. Persebaran isu ini terlihat dari sosialisasi tentang rencana naiknya SP pada setiap fakultas di UPN. Di Fakultas Ekonomi (FE) misalnya, Wadek I, Drs.Ec. Syaiful Anwar, M.Si., memberikan sosialisasi tentang SP kepada mahasiswa. Tak jarang juga ada mahasiswa bertanya dan berdebat dengan ataupun dosen di sela-sela perkulihan.
Pelaksanaan SP ini sebenarnya tidak diwajibkan bagi mahasiswa. Bagi yang ingin mempercepat waktu kuliahnya dan kebetulan mempunyai biaya, maka tidak masalah jika ingin menempuh SP. Namun, jika tidak mengambil SP pun tidak apa-apa. ”SP itu tidak memaksa, mau ikut tidak apa-apa, tidak ikut pun tidak apa-apa,” Syaiful Anwar.
Namun, isu naiknya biaya SP ini tentu mengejutkan mahasiswa. Di tengah-tengah meroketnya harga bahan-bahan pokok dan biaya hidup yang semakin berat, bertambahnya jatah untuk biaya pendidikan pasti juga akan semakin meresahkan orang tua. Respon terhadap isu tersebut tampak pada aksi mahasiswa yang mengatasnamakan forum peduli mahasiswa berupa penempelan poster-poster bertuliskan, “STOP pendidikan mahal..!!” hampir di setiap gedung fakultas.
“Ya…, bila naik sih jangan sampai terlalu memberatkan mahasiswa dan tolong dari fasilitas dan pengajaran lebih ditingkatkan lagi,” ujar Adit (Akuntansi, 2006) sebagai bentuk responnya.
Satu-satunya fakultas yang tidak terpengaruh oleh isu kenaikan SP yang mencapai 100% ini adalah Fakultas Hukum (FH). Fakultas termuda di UPN ini belum menerapkan sistem SP. “FH belum menerapkan SP karena dirasa belum perlu. Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan adalah nilai anak-anak hukum tidak begitu banyak yang buruk, tetapi tidak menutup kemungkinan suatu saat SP diadakan dilihat juga aturan yang di berikan oleh pihak universias yang mana SP harus di lakukan di setiap fakultas,” jelas Haryo, S.H. selaku Wadek I FH.
Ketika dikonfirmasi ke pihak rektorat, salah seorang petinggi di rektorat memberikan sedikit bocoran tentang isu kenaikkan SP tersebut. Dengan mengatasnamakan pihak rektorat, dia menjelaskan beberapa hal terkait dengan biaya SP tersebut. “SP bukannya naik, tetapi menyesuaikan,” tuturnya. Dijelaskan selanjutnya bahwa penyesuaian yang dimaksud berhubungan dengan pelaksanaan SP itu sendiri.
Biaya operasional SP yang dikeluarkan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, ada tanggapan dosen yang mengeluhkan kurang sesuai atau belum proporsionalnya pendapatan yang mereka dapatkan dibanding dengan kesediaan mereka bekerja di luar jam kerja dan mengorbankan waktu berkumpul dengan keluarga, serta dari pihak mahasiswa pun tetap menginginkan diadakan SP dengan harapan ingin memperbaiki nilai ataupun mempercepat masa perkuliahan.
“Sudah ada keputusan tetapi belum finis, tinggal menunggu beberapa tahap lagi, lalu sosialisasi kepada mahsiswa. Kami perkirakan kenaikannya sekitar 40%-50%,“ jawab pihak rektorat ketika ditanya tentang hasil rapat kenaikan SP sampai saat ini. Pihak rektorat tidak ingin menyebutkan nominal pastinya, “Menunggu sosialisasi saja,” tambahnya.
Kamis, 20 Maret 2008
Make It Originality!!

Okky, Ryan, Irfan, Garry, dan Yoyok. ORIGY. Nama Origy masih terdengar asing di telinga kita, namun pasti tidak asing lagi bagi penyuka musik Indie di Surabaya dan sekitarnya. Yup…Origy adalah salah satu band Indie yang terlahir di kota Surabaya.
Lima personil dalam band ini memiliki kesamaan visi dan misi dalam bermusik hingga membuat mereka sepakat untuk bekerja sama dalam satu band. Akhirnya terbentuklah Origy pada 13 Oktober empat tahun silam.
Manusia boleh berencana namun tetap Tuhanlah yang menentukan. Seiring dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit perbedaan visi dan misi mulai timbul. Tak terelakkan lagi, perbedaan itu membuat tiga orang personil hengkang dari Origy. Tersisalah Irfan dan Garry yang tetap bertahan. Mereka berdua tidak putus asa, semangat bermusik yang tak pernah kandas membuat mereka ingin tetap mempertahankan Origy. Di UKM musik Satya Palapa UPN “Veteran” Jatim, tempat mencurahkan inspirasi bermusiknya, mereka menemukan dua semangat baru yang siap menghidupkan kembali Origy. Mereka adalah Doni dan I’i. Akhirnya, dengan semangat baru, di penghujung tahun 2006 lalu Origy kembali hidup dengan personil Donny (vocal), Irfan (gitar), Garry (bass), dan I’I (drum).
Band yang digawangi empat cowok cakep ini telah menelurkan 22 lagu ciptaan mereka sendiri. Diantaranya, Cintaku Langkahku, Bunda, Turunkan Aku Ke Dunia, Sampai Kapan dan masih ada seabrek lagu-lagu Origy yang pastinya memanjakan telinga. Irfan, gitaris Origy yang lebih suka dipanggail Panle ini, menuturkan bahwa lagu-lagu mereka terinspirasi dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, hasil dari membaca buku, dan dari mimpi. Salah satu lagu yang terinspirasi dari pengalaman pribadi adalah lagu yang sekarang ini sudah bisa didengar di radio-radio ternama di Surabaya, yaitu Cintaku Langkahku. “Lagu ini nggak hanya menceritakan tentang hubungan long distance, tapi juga tentang pasangan yang ditinggal pergi kekasihnya,” tambah Irfan.
Tidak hanya lagu Cintaku Langkahku saja yang bisa didengar di radio. Lagu dengan judul Bunda dan Turunkan Aku Ke Dunia juga sudah bisa dinikmati oleh para original, begitu mereka menyebut para fans-nya. Di sela-sela wawancara, Garry sang bassist yang hobi tidur ini memberikan secarik kertas bertuliskan jadwal lagu-lagu Origy yang bisa dinikmati melalui gelombang 105,9 EBS FM setiap hari pukul 18.00 WIB, 94,8 DJ FM setiap Sabtu pukul 16.00 WIB dan 101,1 Istara FM setiap hari Minggu pukuk 11.00 WIB.
Dari sekian banyak lagu yang telah mereka ciptakan, mereka mempunyai lagu andalan masing-masing. Irfan bangga dengan lagu bertajuk Cintaku Langkahku, I’i dengan Turunkan Aku ke Dunia, Donny gandrung dengan Biar, sedangkan Garry dan sang manajer, Samsue, lebih mengandalkan lagu Bunda yang merupakan adalah lagu pertama yang berhasil diciptakan oleh Origy.
Band yang kental dengan keoriginalitasan anak muda ini memang mampu mencuri hati banyak pecinta musik Indie di Surabaya dengan hits-hits dasyat mereka. Terbukti, band yang mengaku memiliki aliran musik pop rock alternatif ini sudah banyak melanglang buana di banyak café di kota Pahlawan. Baru-baru ini, mereka sempat unjuk gigi di Van Java. Tidak hanya itu, jauh sebelumnya Origy juga pernah menggelar aksi panggung sebagai band pembuka Utopia Goes to Campus, Total Indie JTV Surabaya, A Mild Music Collaboration Goes to Campus, dan masih banyak lagi segudang aksi panggung yang mampu memacu adrenalin para original.
Belum cukup sampai di situ, mereka juga aktif mengikuti kompetisi-kompetisi band yang ada di Surabaya. Alhasil, mereka mampu menggondol gelar juara satu Soundtrack A Mild Indie Movie dan Juara dua XL Music Competition. Masih soal aksi panggung Origy, empat cowok asli Surabaya yang juga tergabung dalam UKM Musik “Satya Palapa UPN” ini mengaku hanya menyiapkan stamina sebelum tampil agar tetap fit saat manggung.
Semangat ’45 yang mereka miliki memang patut diacungi jempol. Meski mengaku banyak mengalami kejadian-kejadian konyol di atas panggung, tetapi mereka tidak pernah berhenti mencoba dan terus berkarya. Salut untuk Origy!!
Ketika ditanya tentang harapan untuk Origy, meskipun dijawab dengan kalimat yang berbeda-beda namun pada intinya mereka kompak menginginkan Origy bisa menjadi lebih besar lagi, bisa membawa nama UPN dan bisa lebih sukses lagi. “Kita pengen jadi band yang besar, sukses dan mati masuk surga,” ujar sang drummer sambil bercanda.
Buat para original yang ingin tahu lebih jauh tentang Origy, bisa berkunjung ke friendster Origy di origy_band@yahoo.co.id.(atr)
Langganan:
Postingan (Atom)
