Sabtu, 22 Maret 2008

UPN News dan UPN News

Pepatah mengatakan, “Semakin tinggi sebuah pohon, maka akan semakin kencang angin meniupnya”. Bisa jadi, inilah yang sedang dialami oleh PersMa GIRI TARUNA “UPN News”. Di tengah-tengah usaha bangkit dari keterpurukan hingga akhirnya benar-benar bisa menjadi media yang netral, kami dikejutkan dengan beredarnya buletin berjumlah empat halaman yang mengatasnamakan UPN News pada bulan Februari 2008.
Senin (25/02) kami menemukan beberapa copy surat tanggapan berita yang dikirim oleh SC BEM UPN “Veteran” Jatim dengan menyertakan selembar buletin dengan nama UPN News. Penemuan ini berujung pada pengumpulan anggota pada Selasa (26/02). Setelah ditela’ah lebih lanjut, ternyata tidak ada satu pun anggota PersMa yang mengetahui tentang penerbitan tersebut.
Lebih jelas dipaparkan bahwa Pimpinan Umum maupun Pimpinan Redaksi tidak pernah mendapat laporan penulisan berita tersebut dari wartawan “UPN News” sejak terakhir terbit pada Januari 2008. Tim redaksi sengaja tidak terbit bulan Februari karena saat itu mahasiswa sedang libur pasca UAS dan adanya KKN di Probolinggo dan Ngawi. Beberapa orang tim redaksi menjadi peserta KKN dan beberapa orang lainnya mengadakan kunjungan dan meliput kegiatan di Probolinggo dan Ngawi. Tidak ada aktivitas penerbitan setelah buletin terakhir kami yang terbit pada bulan Januari 2008.
Dalam rapat itu, kami juga telah mengumpulkan bukti-bukti fisik yang dapat menjelaskan bahwa buletin yang terbit pada bulan Februari 2008 bukanlah hasil karya tim redaksi UPN News. Beberapa bukti ini dimaksudkan untuk meyakinkan pembaca bahwa buletin dengan jumlah empat halaman tersebut bukanlah hasil karya tim redaksi “UPN News”. Perlu diketahui bahwa sejak PersMa berregenerasi pada Juli 2007 lalu, tim redaksi telah menetapkan beberapa unsur pokok dalam penerbitan terkait dengan ciri khas buletin secara fisik.
1. Dalam terbitan PersMa setelah pergantian pengurus tahun 2007 lalu, logo PersMa yang selalu kami gunakan bertuliskan “Unit Kegiatan Pers Mahasiswa UPN “Veteran” Jatim” pada lingkarnya, sedangkan pada buletin ilegal tersebut tertulis “Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur”.
2. Nama media kami ditulis dengan menggunakan jenis font tertentu. Dalam buletin ilegal tersebut, nama media ditulis dengan font lain. Ciri khas nama ini digunakan sejak pergantian pengurus pada Juli 2007.
3. Sejak Juli 2007 hingga saat ini, kami tidak pernah meletakkan susunan redaksi di halaman pertama dengan urutan menurun. Jika buletin tersebut hanya empat halaman, kami meletakkan susunan redaksi pada halaman keempat paling bawah dengan urutan mendatar. Susunan redaksi pada buletin ilegal tidak dicantumkan secara benar.
Pertemuan dengan Chairul Restuanto (Ilmu Komunikasi, 2006) pada Rabu (28/02) seperti oase di padang pasir bagi kami. Kami menemukan titik terang yang dapat mengembalikan nama baik kami yang tercoreng karena tidak adanya keberimbangan dalam pemberitaan pada buletin Februari 2008. Pada pertemuan tersebut, pria yang akrab dipanggil Restu ini mengakui bahwa pada bulan Februari 2008 telah menulis, memperbanyak dan menyebarkan buletin atas nama UPN News dengan tidak mengikuti mekanisme keanggotaan dan penerbitan organisasi PersMa UPN News.
Selain itu, kami menilai bahwa semua tulisan yang ada dalam buletin tersebut adalah bentuk subyektivitas penulis dengan tidak memperhatikan unsur keberimbangan dalam pemberitaan atau bisa dikatakan bahwa tulisan tersebut adalah opini penulis yang tidak memperhatikan obyektivitas. Mengenai berbagai elemen organisasi dan individu yang disebutkan di dalam buletin tersebut (WAREK III, DAKMU, FMPOK, Ormawa jurusan dan fakultas) tidak seluruhnya benar secara obyektivitas.

Kamis, 20 Maret 2008

Kupu-Kupu


Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Dia duduk dan mengamati selama beberapa jam kupu-kupu dalam kepompong itu ketika dia berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. kemudian sang kupu-kupu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.
Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh yang gembung dan kecil serta sayap-sayap yang mengerut. Orang tersebut terus mengamatinya, karena dia berharap bahawa suatu saat sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuh si kupu-kupu. Sayang, semuanya tak pernah terjadi.
Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil tersebut adalah cara Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya, sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut
Kadang, perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan itu mungkin malah melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.
Kita memohon kekuatan dan Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita kuat. Kita memohon kebijakan dan Tuhan memberi kita persoalan untuk selesaikan. Kita memohon kemakmuran dan Tuhan memberi kita otak dan tenaga untuk bekerja. kita memohon keteguhan hati dan Tuhan memberi kita bahaya untuk diatasi. Saya memohon cinta dan Tuhan memberi kita orang-orang yang bermasalah untuk ditolong. Kita memohon kemurahan dan kebaikan hati dan Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan.
Kita tidak memperoleh yang kita inginkan, kita mendapat segala yang kita butuhkan.